Tgl penyerahan :
12 Agustus 2017
Nama : Abdul Halim
|
NILAI
|
Mata Kuliah :
Stadium General
Challeges
Faiced By Islam and The
True
Islamic Teachinges
Dosen : Dr. M. Ibrahim Bhuiyan
Jenis Tugas : Resume
Tgl Materi : 5 Agustus 2017
Tantangan
yang Dihadapi Oleh Islam dan Ajaran Islam yang Sejati
1. Jihad
Tantangan utama yang dihadapi Islam adalah jihad yang dilakukan oleh
Mujahidin di seluruh dunia. Sehingga dunia menganggap Islam itu sebagai agama
yang tidak toleran dan hanya menerima keberadaan umat Islam di dunia dan tidak
memiliki toleransi terhadap orang-orang dari penganut agama lain.
Ø Pengajaran Islam.
Pemberitaan Islam yang
benar terhadap para pengikut agama lain adalah berdasarkan toleransi, oleh
karena itu semua aktivitas jihad yang sedang berlangsung saat ini adalah karena
kurangnya pengetahuan tentang Mujahidin tentang khotbah yang benar dan sejarah
Islam apalagi, Islam hanya memperbolehkan orang lain berkelahi bila keberadaan
Islam itu dipertaruhkan, dan dalam pertempuran itu juga Islam menginstruksikan
para pengikut untuk berperang dalam pertempuran terdepan dan tidak membahayakan
atau membunuh warga sipil.
2. Agama Regrasif
Tantangan kedua yang dihadapi Islam
adalah kesannya sebagai agama yang regresif, terutama orang-orang dari barat berpikir bahwa Islam itu agama yang regresif dan mundur yang tidak beradaptasi dan melekat pada
ajaran Qur’an itu terungkap 1400 tahun
yang lalu.
Ø Pengajaran Islam.
Jika seseorang
memandang dan menganalisa Islam dengan tontonan objektivitas saat itu setiap individu waras di dunia ini akan sampai pada
kesimpulan bahwa Islam adalah agamayang paling progresif di dunia.
Islam adalah agama
yang paling progresif yang diwahyukan kepada umat manusia di Indonesia Abad ke
7, beberapa perubahan besar yang dibawa oleh Islam yang menunjukkan semangat
reformasi agama di antaranya adalah:
Islam adalah agama pertama yang memberi
hak kepada perempuan di bidang properti Islam juga memberi wanita kebebasan
berbicara dan menolak gagasan bahwa wanita adalah makhluk yang lebih rendah, budak
dan wanita diberi hak yang sama dengan orang lain.
3. Qur’an Bukan Universal
Muslim percaya bahwa Islam adalah agama
universal dan ajaran Qur’an juga universal, inilah yang menimbulkan
dugaan lain dimana orang berpikir bahwa Qur’an tidak universal.
Dugaan orang ini juga menghubungkan asosiasi muslim dan berafiliasi dengan Qur’an sebagai sumber umat
Islam terbelakang dan tidak tahu apa-apa tentang dunia
kontemporer.
Ø Pengajaran Islam
1. Islam sama sekali tidak bersifat regresif dan
Qur’an bukan hanya agama buku melainkan buku pengetahuan dan berisi pengetahuan
tentang semua hal di alam semesta.
2. Islam masuk tidak ada cara yang menghambat
penyempurnaan dalam pendidikan dan pengetahuan, khususnya Nabi SAW dalam berbagai haditsnya mendorong pembelajaran dan pencarian pengetahuan.
|
NILAI
|
Nama : Abdul Halim
Utusan : MUI Kec. Parung
Mata Kuliah : Tafsir Tematik
Dosen : KH. Rosyadi
Jenis Tugas : Resume
Tgl Materi : 5 Agustus 2017
الدعوة الى الله
Kewajiban Berdakwah Bagi Ummat Islam.
1. Surat Ali Imran Ayat: 104
“Kamu adalah umat
yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.
Ayat di atas secara tegas
memerintahkan berdakwah, oleh karenanya para ulama sepakat tentang kewajiban
dakwah ini. Akan tetapi, kemudian mereka berselisih menjadi dua pendapat:
Ø Hukum dakwah adalah fardhu kifayah.
Ø Hukum dakwah
adalah fardhu ‘ain, sesuai dengan kemampuan masing-masing.
2. Surat Ali Imron Ayat: 110
“Kalian
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
Di dalam ayat ini
terkandung dua hal;
ü mulianya umat Islam adalah dengan dakwah.
ü tegak dan eksisnya
umat Islam adalah dengan menjalankan konsep amar ma’ruf nahi munkar.
Apapun profesi dan
pekerjaan seorang muslim, tugas dakwah tidak boleh dia tinggalkan. Setiap
muslim berkewajiban untuk menyampaikan dakwah sesuai dengan kapasitas dan
kemampuan yang dimiliki. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa dakwah adalah
jalan hidup seorang mukmin yang senantiasa mewarnai setiap perilaku dan
aktifitasnya.
3. Surat Ali Imron Ayat: 114
“Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka
menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada
(mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh”.
Maksudnya :
(Mereka beriman kepada
Allah dan hari yang akhir, menyuruh kepada yang makruf dan melarang dari yang
mungkar dan berlomba-lomba mengerjakan kebaikan. Mereka itulah) yakni yang
dilukiskan tadi (termasuk orang-orang yang saleh). Di antara mereka ada pula
yang tidak seperti demikian dan tidak termasuk orang-orang yang saleh.
4. Surat An Nisa Ayat: 114
“Tidak
ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan
dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau
Mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian
karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang
besar”.
Maksudnya;
tidak ada kebaikan pada
kebanyakan bisikan-bisikan manusia dan perbincangan mereka apabila tidak
mengandung kebaikan padanya karena boleh jadi hal tersebut tidak ada manfaatnya
seperti memperbanyak perbincangan yang mubah, maupun keburukan atau mudarat
yang murni seperti perkataan yang diharamkan dengan berbagai macamnya.
Atau memerintahkan yang
“ma’ruf” adalah termasuk bentuk ihsan dan ketaatan dan segala sesuatu yang
dikenal oleh syariat dan akal sehat tentang kebaikannya. Apabila disebutkan
kata ‘ma’ruf’ secara mutlaq tanpa disebutkan lafazh ‘nahi mungkar’ maka
otomatis masuk juga ‘nahi mungkar’ alasannya adalah karena orang yang
meninggalkan larangan-larangan merupakan hal yang ma’ruf, juga dikarenakan
alasan bahwa tidaklah sebuah kebaikan akan menjadi sempurna sehingga orang
harus meninggalkan keburukan. Adapun apabila dua kalimat tersebut apabila
digabungkan maka ma’ruf diartikan sebagai perbuatan yang diperintahkan
sedangkan mungkar dengan meniggalkan larangan.
Atau mengadakan
perdamaian diantara manusia”, yakni tidaklah dikatakan perdamaian kecuali yang
terjadi diantara dua orang yang bersengketa dan bermusuhan. Permusuhan,
pertikaian dan rasa benci menimbulkan keburukan dan perpecahan yang tidak dapat
terhingga. Oleh karena itu Syariat menganjurkan perdamaian diantara manusia
pada hak darah , harta, kehormatan, bahkan masalah agma.
5. Surat Al-Maidah Ayat : 63
“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka
tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?
Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu”.
Ayat ini menjelaskan
tanggung jawab besar yang ada di pundak para ulama, cerdik pandai dan para
pembimbing masyarakat. Ia mengatakan, jika masyarakat berbuat dosa dan
kesalahan, akan tetapi mengapa para tokoh dan ulama itu, diam tidak melarang
dan bungkam seribu bahasa? Sekedar menjauhkan diri dari dosa tidaklah cukup.
Namun hendaknya para pendosa dicegah dari perbutan-perbuatan dosanya. Karena
sikap diam di hadapan perbuatan jahat dan dosa, merupakan sejenis dukungan
terhadap dosa tersebut, yang bakal menghantarkan manusia kepada balasan dan
siksa.
Dari ayat tadi terdapat
dua pelajaran yang dapat dipetik:
Ø Diam
dan sikap tidak perduli, bukan alasan dan tidak akan melepaskan seseorang dari
kewajibannya. Bahkan yang demikian itu akan semakin mendorong dan membuka
peluang bagi seseorang untuk semakin berani melakukan dosa.
Ø Tanggung
jawab amar makruf dan nahi mungkar pada tahap pertama merupakan kewajiban para
ulama agama.
Ø Ilmu
pengetahuan akan berharga jika ia ditampakkan dan diarahkan untuk mencegah
tingkah laku dan watak-watak jahil.
6. Sutar Al-Maidah Ayat: 79
“Mereka
tidak saling melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. sungguh amat
buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”.
Ayat ini menjelaskan
salah satu bentuk kedurhakaan mereka. Ini dijelaskan dan dijawab dengan
firmannya di atas bahwa: mereka senantiasa dan sejak dahulu hingga kini tidak
saling melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat, yakni tidak saling
melarang mengulangi perbuatan mungkar yang diperbuat oleh sebagian mereka.
Sungguh amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.
Kata yatanaahaun /
saling melarang dalam arti bila ada yang melakukan dengan suatu kemungkaran,
maka yang lain melarangnya, dan bila suatu ketika yang melarang itu melakukan
kemungkaran serupa atau berbeda, maka ada lagi yang lain tampil melarangnya,
baik yang dahulu pernah dilarang maupun anggota masyarakat lain.
Kata yatanahaun dapat
juga dipahami dalam arti berhenti, yakni tdak melakukan, sehingga jika dipahami
demikian, dengan penambahan kata “la” / tidak, ayat ini berarti bahwa mereka
terus menerus dan tidak berhenti-henti melakukan kemungkaran.
Ayat ini merupakan
salah satu dasar menyangkut kewajiban melaksanakan amar ma’ruf dan nahi
mungkar.
Kata munkar adalah
lawan kata ma’ruf. Kata munkar atau mungkar dipahami oleh banyak ulama sebagai
segala sesuatu, baik ucapan maupun perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan
agama, akal dan adat istiadat.
7. Surat Al-A’raf Ayat: 165
“Maka
tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan
orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada
orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat
fasik”.
Dalam ayat diatas Allah
telah menetapkan keselamatan bagi orang-orang yang melakukan pelarangan dan
kebinasaan bagi orang-orang yang dhalim, sedangkan Allah mendiamkan (tidak
menyebutkan ketentuan) terhadap yang berdiam diri, karena balasan sesuai dengan
jenis amal perbuatan dan mereka itu tidak melakukan perbuatan yang menjadikan
mereka berhak mendapatkan pujian, juga mereka tidak melakukan perbuatan dosa
yang jadikan mereka tercela.
Namun demikian, para
Ulama telah berbeda pendapat mengenai mereka, apakah mereka itu termasuk
orang-orang yang dibinasakan ataukah termasuk orang-orang yang diselamatkan.
Mengenai hal ini terdapat dua pendapat.
8. Surat Al-A’raf Ayat 199
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang
mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”.
Ayat ditas mengandung
pokok-pokok akhlak yang mulia, diantaranya adalah memberikan maaf dan ampunan
kepada orang lain. Hal ini adalah bagian dari akhlak kepada sesama manusia
tanpa membebani mereka dan menjadikan sulit dan terbebani. Inilah salah satu
dari ciri akhlak seorang muslim yaitu memaaf, memudahkan dan lembut lembut
dengan orang lain.
9. Surat At-Taubah Ayat: 71
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang
lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar,
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya.
mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.”
Ayat diatas menjelaskan
bahwa sebagian kaum mukminin, baik laki-laki maupun perempuan adalah penolong
bagi sebagian yang lain. Mereka saling menyongkong karena kesamaan agama dan
keimanan kepada Allah. Mereka menyuruh yang ma’ruf (segala amal saleh yang
diperintahkan syariat, seperti tauhid dan ibadah), mencegah yang mungkar
(segala ucapan dan perbuatan yang dilarang syariat, seperti kezhaliman dan
kenistaan), mengerjakan shalat fardhu tepat waktu, membayar zakat wajib,
menanti perintah dan laranagn Allah serta Rasul-Nya. Mereka yang memiliki sifat
demikian pasti dirahmati Allah (sebagaimana janji-Nya) dengan kenikmatan surga.
Allah Maha kuat, tiada sesuatu yang bisa melemahkan-Nya, Maha Bijaksana dalam
semua ketentuan-Nya. Dia tidak meletakkan sesuatu, kecuali pada tempatnya.
10. Surat At-Taubah
Ayat: 112
“Mereka itu
adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat,
yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat
munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang
mukmin itu”.
Maksudnya;
Mereka itu adalah
orang-orang yang bertobat dari kemusyrikan dan kemunafikan (yang beribadah)
orang-orang yang ikhlas karena Allah dalam beribadah (yang memuji) kepada Allah
dalam semua kondisi (yang melawat) makna yang dimaksud adalah mereka selalu
mengerjakan shaum/puasa (yang rukuk, yang sujud) artinya mereka adalah
orang-orang yang salat (yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat
mungkar dan yang memelihara batasan-batasan Allah) yakni hukum-hukum-Nya dengan
cara mengamalkannya. (Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu) dengan surga.
11. Surat
An-Nahl Ayat: 90
“Sesungguhnya Allah menyuruh
(kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi
kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan
permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil
pelajaran.”
Maksudnya:
Allah Ta’ala
memberitahukan bahwa Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat adil,
yakni mengambil sikap tengah dan penuh keseimbangan, serta menganjurkan untuk
berbuat kebaikan.
12. Surat
Maryam Ayat: 55
Dan
ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah
seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.
Ayat diatas memberi
Isyarat bahwa perhatian kepada keluarga dan pendidikan dalam keluarga yang
merupakan mukadimah untuk memperbaiki masyarakat. Karena itu, sebelum mengajak
umat dan masyarakat kepada agama, para pembawa misi risalah dan kenabian mesti
memulai seruan mereka dengan memperbaiki keluarganya. Tentunya, bagi para nabi
keridhaan Allah adalah tolok ukur dari semua langkah dan tindakan, bukan
kepuasan manusia. Karena itu para nabi tak akan pernah mundur dari prinsip yang
diyakininya hanya demi memuaskan masyarakat.
Dari ayat tersebut terdapat dua pelajaran yang
dapat dipetik:
1. Yang
semestinya menjadi parameter untuk penghormatan adalah kesempurnaan spriritual
bukan hal-hal yang remeh dan tak berguna.
2. Selain
memikul tugas dan tanggung jawab sosial, para nabi juga memiliki tanggung jawab
di keluarga mereka. Dalam masalah mendidik keluarga, mereka memprioritaskan
shalat dan zakat di atas semua hal.
13. Surat
Al-Hajj Ayat: 41
“…(yaitu)
orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya
mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala
urusan.”
Ayat diatas mencerminkan
sekelumit dari ciri-ciri masyarakat yang diidamkan Islam, kapan dan dimanapun,
dan yang telah terbukti dalam sejarah melalui masyarakat Nabi Muhammad saw. dan
para sahabat beliau.
Masyarakat itu adalah
yang pemimpin-pemimin dan anggota-anggotanya secara kolektif dinilai bertakwa,
sehingga hubungan mereka dengan Allah swt. sangat baik dan jauh dari kekejian
dan kemunkaran, sebagaimana dicerminkan oleh sikap mereka yang selalu
melaksanakan shalat dan harmonis pula hubungan anggota masyarakat, termasuk antar
kaum berpunya dan kaum lemah yang dicerminkan oleh ayat diatas dengan
menunaikan zakat. Disamping itu mereka juga menegakkan niali-niai yang dianut
masyarakat, yaitu nilai-nilai ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar.
Pelaksanaan kedua hal tersebut menjadikan masyarakat melaksanakan kontrol
sosial, sehingga mereka saling ingat mengingatkan dalam hal kebajikan, dan
saling mencegah terjadinya pelanggaran.
14. Surat
Luqman Ayat: 17
“Hai
anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah).”
Ayat diatas menerangkan
mengenai kewajian mengerjakan shalat karena shalat merupakan hal yang
utama serta di wajibkan untuk mengerjakan yang baik serta mencegah dari
perbuatan yang mungkar dan diserukan untuk bersabar ketika menghadapi sesuatau
yang menimpa dirinya (anak Luqman) dan dari ketika tersebut diatas maka
dapat ditarik kesimpulan bahwasannya itu adalah wajib untuk dilaksanakan.
|
NILAI
|
Nama : Abdul Halim
Utusan : MUI Kec.
Parung
Mata Kuliah : Ilmu Hadits
Dosen : KH. Sanusi Azhari
Jenis Tugas : Resume
Tgl Materi : 05 Agustus 2017
Perawi yang meriwayatkan hadits itu memiliki
syarat-sarat tertentu, diantaranya:
ü
Adil
ü
Istiqomah
didalam beramal sholih
ü
Selalu
menjaga kehormatannya ( muru’ahnya).
Berikut ini istilah-istilah yang ada di dalam ilmu
hadist, yaitu:
1)
Sahabat = orang yang pernah berjumpa dengan Nabi
SAW, beriman kepadanya dan wafat dalam keadaan Islam.
2)
Tabi’in = orang
yang berjumpa dengan sahabat, beriman kepada Nabi SAW, dan wafat dalam keadaan
Islam.
3)
Tabi’ut
tabiin = orang Islam yang berjumpa dengan tabi’in,
dan wafat dalam keadaan Islam.
4)
Hadits = setiap perkataan Nabi, perbuatan dan
persetujuan (ikrarnya) Nabi.
5)
Matan = susunan
kata-kata atau isi daripada hadits.
6)
Sanad = jalan matan hadits dari nabi sampai kepada para
perawi terakhir.
7)
Rawi = setiap orang
yang menjadi perantara nyampainya matan hadits.
8)
Sohih = hadits yang
memenuhi syarat, diantaranya perawinya bersifat a’dil, sanadnya bersambung
sampai kepada Nabi, tidak ada illat, tidak syadz dan lain-lain.
9)
Hasan = hadits yang
derajatnya hamper sama dengan hadits sohih, hanya saja perawinya memiliki
sedikit kekurangan.
10) Do’if
= hadits yang tidak sampai ke
derajat hasan,
11) Marfu’ = hadits yang
sanadnya bersambung sanmai kepada Nabi.
12) Mauquf = khabar yang
sanadnya hanya sampai kepada sahabat.
13) Maqtu’ = khabar yang
sanadnya hanya sampai kepada tabi’in.
14) Gharib = hadits yang
hanya memiliki satu sanad.
15) Aziz = hadits yang memiliki dua atau
tiga sanad.
16) Masyhur = hadits yang
memiliki sanad lebih dari tiga.
17) Mutawarir = hadits yang
mempunyai sanad yang banyak sampai tidak diketahui lagi jumlahnya.
18) Mu’allaq = hadits yang
tidak disebutkan sanadnya.
19) Mursal = hadits yang
didalam sanadnya tidak disebutkan sahabat.
20) Mu’dol = hadits yang
diriwayatkan oleh tabi’uttabiin tanpa melalui tabi’in dan sahabat.
21) Munqoti’ = hadits yang
hilang seorang rawi atau dua didalam sanadnya.
22) Mudallis = hadits yang
di dalam sanadnya ada seorang perawi
yang tidak mau menyebutkan orang yang member hadits kepadanya.
23) Maudlu’ = hadits yang
di dalam sanadnya ada perawi yang pendusta.
24) Matruk = hadits yang
di dalam sanadnya ada perawi yang dituduh pendusta.
25) Mudhraj = hadits yang
didalam matannya terselip perkataan perawi yang bukan dberasal dari Nabi, atau
yang di dalam sanadnya terselip seorang perawi yang tidak ikut meriwayatkan
hadits tersebut.
26) Mudlthorrib = hadits yang
didalam matan ataw sanadnya terdapat perkataan atau sanad yang tidak sama arti
dan maksud hadits tersebut.
27) Maqlub = hadits yang
terbalik susunan katanya, atau dalam sanadnya terbalik meletakan posisi
perawinya.
28) Mu’allal = hadits yang
mempunyai cacat ( illat )
29) Mahfudz = hadits yang
lebih kuat dari pada hadits hasan ataw sohih yang lain.
30) Syadz = hadits yang bertentangan
dengan hadits sohih atau hasan yang lain yang lebih kuat.
31) Ma’ruf = hadits lemah
yang lebih kuat yang bertentangan dengan hadits lemah yang lain.
32) Munkar = hadits yang
lemah dan bertentangan dengan hadits lemah yang lain yang lebih kuat.
33) Qudsi = hadits yang lafadznya dari Nabi sedangkan maknanya
dari Alloh SWT.
34) Muttafaq alaih = hadits yang
diriwayatkan oleh Bukhori- Muslim.
35) Rowahu sab’ah = hadits yang di riwayatkan oleh 7 perawi ( Ahmad,
Bukhori, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasa’i)
36) Rowahu sittah = hadits yang
di riwayatkan oleh 6 perawi ( Bukhori, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi,
Nasa’i)
37) Rowahu khomsah = hadits yang di riwayatkan oleh 5 perawi ( Ahmad,
Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasa’i)
38) Rowahu arba’ah = hadits yang di riwayatkan oleh 4 perawi ( Abu Daud,
Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasa’i)
39) Rowahu tsalatsah = hadits yang di riwayatkan oleh 3 perawi ( Abu Daud,
Ibnu Majah, Tirmidzi)
|
|
Nama : Abdul Halim
Utusan : MUI Parung
Jenis Tugas : Refleksi
Tgl Pertemuan : 05 Agustus 2017
Berikut ini
sebagai bahan muhasabah diri kita, bahwa begitu pentingnya menjaga perbuatan
dan lidah dari mencaci, menghina, menghujat dan mengeluarkan kata-kata yang
menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain. Hal ini sesuai dengan banyaknya
dan beredarnya berita hoak dan saling mencaci yang beredar di kalangan
masyarakat dewasa ini. Berkaitan hal ini, al-faqir menguraikan sebahagian
poin-poin penting yang harus kita fahami:
ü
Mencaci
maki orang lain dgn kata-kata kotor,
tidak membuat org menjadi kotor, malah sebaliknya mengotori diri sendiri. Sebab
kata-kata kotor itu keluar dari hati dan
fikiran kita.
ü
Hanya
hati dan fikiran yg kotor mengeluarkan kata-kata yg kotor.
ü
Menghina
orang tidak membuat org terhina melainkan membuat hina diri sendiri. Sebab
hanya hati dan fikiran yg hina akan mengeluarkan kata-kata dan perilaku
menghina.
ü
Menghormati
orang dgn kata-kata yang baik dan sopan
akan membuat diri anda dihormati dan hati anda penuh kasih sayang. Sebab hanya
hati yg penuh kasih sayang akan mengeluarkan kata-kata kasih.
ü
Menguatkan
orang dgn kata-kata bijak akan membuat diri anda menjadi kuat dan fikiran anda
bijak sebab hanya fikiran yg bijak akan melahirkan kata-kata bijak.
ü
Membahagiakan
orang dgn kata-kata berpengharapan akan membuat diri anda bahagia dan jiwa anda
penuh harapan. Sebab hanya jiwa yg penuh harapan dpt menyampaikan kata-kata
penuh harapan.
ü
Kata-kata
dan perbuatan kita mencerminkan diri kita dan, atau akan membentuk siapa diri
kita”
ü
Apa
yg kita berikan, itulah yg kita miliki dan selanjutnya itu pula yg akan kita terima.
Begitu banyak dalil-dalil yang berkaitan dengan hal ini baik dari
Al-Qur’an maupul Hadits Nabi yang mengajarkan kita untuk saling menjaga kerukunan
bermasyarakat dengan menjaga lidah dan ucapan kita agar terciptanya kedamaian,
ketentraman dan saling menghormati diantara ummat.
Semoga tulisan ini membawa hikmah dan manfaat bagi kita bersama.
Wallohu a’lam bisshowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar