Kamis, 17 Agustus 2017

TUGAS MINGGU KE-5 ABDUL HALIM PARUNG

 Tgl penyerahan           : 19 Agustus 2017
Nama                           : Abdul Halim

  NILAI
 
Utusan                         : MUI Kec. Parung
Mata Kuliah                : Stadium General
                                      Media Masa dan Kebebasan Informasi
Dosen                          : Hazairin Sitepu ( CEO Radar Bogor )
Jenis Tugas                  : Resume
Tgl Materi                   : 12 Agustus 2017

 


Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, terutama dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi yang menjadikan segala berita dan kebebasan berpendapat pun dapat di diakses dengan begitu mudahnya. Bahkan bukan hanya itu, kemajuan teknologi pun membantu masyarakat untuk berbagi informasi dan menyebarkan berita dengan cepat dan begitu mudahnya, baik yang bersifat positif dan bermanfaat bagi masyarakat maupun bersifat negatif  yang mengandung unsur-unsur kebohongan, propokasi atau berita-berita hoax yang dewasa ini banyak beredar di kalangan masyarakat.
Begitu banyak berita-berita yang tidak jelas kebenarannya yang disebar luaskan oleh sebahagian masyarakat atau golongan yang tidak bertanggung jawab. Berita Hoax yang disebarluaskan memang ditujukan agar orang lain dapat dengan mudah mempercayai berita bohong atau hoax tersebut, dan tak jarang orang lain justru turut serta untuk menyebarkannya.
Sebagai masyarakat yang baik, seharusnya bisa menyaring dan memilih mana berita yang benar dan mana berita hoax, sehingga tidak terpengaruh dengan berita-berita yang tidak jelas sumbernya dan tidak dapat di pertanggung jawabkan tersebut.
Sebagai ulama yang menjadi figur dan pelayan di masyarakat, memiliki peran dan tugas yang sangat penting untuk menghadapi situasi seperti ini. Diantaranya adalah:

Ø  Sebagai ulama harus bisa mengajarkan tabayun kabar berita apalagi tentang hoax.
Ø  Harts cerdas memilih informasi dan menagggapi berita hoax.
Ø  Harus bias mengklarifikasi tentang berita yang hoax sebagaimana diterangkan dalam Qs. Al-Hujurat ayat 6 :
يَاأيها الذين امنوا  إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا  أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على
 ما فعلتم نادمين
            “ Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik dating kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan ( kecerobohan ), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”















 Tgl penyerahan           : 19 Agustus 2017

NILAI
 
Nama                           : Abdul Halim
Utusan                         : MUI Kec. Parung
Mata Kuliah                : Ilmu Hadist
Dosen                          : KH. Sanusi Azhari
Jenis Tugas                  : Resume
Tgl Materi                   : 12 Agustus  2017
                                         
Seorang ulama dalam menyampaikan hadits itu tidak lah cukup dengan mengatakan Al-hadits saja tanpa menyebutkan sanad atau siapa yang meriwayatkan hadits tersebut. Sehingga dengan itu bisa diketahui derajat atau kedudukan hadits yang ia sampaikan. Apakah itu hadits sohih, hasan, atau do’if ( lemah ).
Beerikut ini keduduka atau derajat suatu hadits, diantaranya :
Ø  Shahih : Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil (muslim, baligh, berakal, bebas dari kefasiqan yaitu melakukan dosa besar atau selalu melakukan dosa kecil, dan bebas dari sesuatu yang menjatuhkan muru’ah/ kewibawaan) dan sempurna hafalannya/penjagaan kitabnya terhadap hadist itu, dari orang yang semacam itu juga dengan sanad yang bersambung, tidak memiliki ‘illah (penyakit/ kelemahan) dan tidak menyelisihi yang lebih kuat. Hadits shahih hukumnya diterima dan berfungsi sebagai hujjah.
Ø  Hasan (baik) : Hadits yang sama dengan hadits yang shahih namun derajatnya turun dan tidak sehebat perawi hadits sohih. Seperti kurang pada sifat  rawinya di mana hafalannya/ penjagaan kitabnya terhadap hadits tidak  sempurna, yakni lebih rendah. Hadits hasan hukumnya diterima didalam syariat.
Ø  Do’if ( lemah ) : Hadits yang kedudukannya turun derastis dari derajat hadits hasan, dikarenakan ada beberapa paktor yang menjadikan kedudukan hadits menjadi lemah, baik dalam sifat atau diri perawinya ataupun dalam matan/ lafadz hadisnya.
Ø  Maudhu’ (palsu) : Hadits yang didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam padahal beliau tidak pernah mengatakannya, hukumnya ditolak.
Ø  Mursal : Yaitu seorang tabi’in menyandarkan suatu ucapan atau perbuatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hukumnya tertolak karena ada rawi yang hilang antara tabi’in tersebut dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mungkin yang hilang itu adalah rawi yang lemah.
Ø  Munqathi’ : Hadits yang terputus sanadnya secara umum, artinya hilang salah satu rawinya atau lebih dalam sanad, bukan di awalnya dan bukan di akhirnya dan tidak pula hilangnya secara berurutan. Hukumnya tertolak.
Ø  Perawi Matruk : Perawi yang dituduh berdusta, atau perawi yang banyak melakukan kekeliruan, sehingga periwayatanya bertentangan dengan periwayatan perawi yang tsiqah. Atau perawi yang sering meriwayatkan hadits-hadits yang tidak dikenal (gharib) dari perawi yang terkenal tsiqah.
Ø  Rawi Mudhtharib : Rawi yang menyampaikan riwayat secara tidak akurat, di mana riwayat yang disam-paikannya kepada rawi-rawi di bawahnya berbeda antara yang satu dengan lainnya, yang menyebabkan tidak dapat ditarjih; riwayat siapa yang mahfuzh (terjaga).
Ø  Rawi Mukhtalith : Rawi yang akalnya terganggu, yang menye-babkan hafalannya menjadi campur aduk dan ucapannya menjadi tidak teratur.
Ø  Tahqiq : Penelitian ilmiah secara seksama tentang suatu hadits, sehingga mencapai kebenaran yang paling tepat.
Ø  Mutaba’ah : Hadits yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits gharib, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari seorang sahabat yang sama.







Tgl penyerahan resume           : 19 Agustus 2017

NILAI
 
Nama                                       : Abdul Halim
Utusan                                     : MUI Kec. Parung
Mata Kuliah                            : Ilmu Tasawuf
                                                  Kajian Kitab Al- Hikam
Dosen                                      : KH. Husnuddin
Jenis Tugas                              : Resume
Tgl Materi                               : 12 Agustus 2017



TANDA-TANDA KEBODOHAN
ماتركَ من الجهلِ شيْـءـاًمن ارادَ ان يُحدِثَ فى الوَقتِ غيرَمااظهرهُ اللهُ فيه 

“Tiada meninggalkan sedikitpun dari kebodohan, barangsiapa yang berusaha akan mengadakan sesuatu dalam suatu masa, selain dari apa yang dijadikan oleh Alloh di dalam masa itu."
Sungguh amat bodoh seorang yang mengadakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Alloh. Pada Hikmah lain ada keterangan: Tiada suatu saat pun yang berjalan melainkan di situ pasti ada takdir Alloh yang dilaksanakan.
 Alloh berfirman: "Tiap hari Dia [Alloh] menentukan urusan." Menciptakan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan dan lain-lain. Maka sebaiknya seorang hamba menyerah dengan ikhlas kepada hukum ketentuan Alloh pada tiap saat, sebab ia harus percaya kepada rahmat dan kebijaksanaan kekuasaan Alloh. 

JANGAN MENUNDA AMAL
اِحالتكَ الاَعمالِ علىٰ وجودِ الفراغِ من رعوناتِ النـَّفـْسِ

“Menunda amal perbuatan [kebaikan] karena menanti kesempatan lebih baik, suatu tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa.”
  Seorang murid apabila terlalu disibukkan dengan urusan dunianya, yang bisa menghalangi amal yang menyebabkan dekat dengan Alloh, sehingga dia menangguhkan amal menunggu kesempatan yang tidak sibuk itu dinamakan kumprung/kebodohan.
 Kebodohan itu disebabkan oleh: 1. Karena ia mengutamakan duniawi. Padahal Alloh subhanahu wata’ala berfirman: ‘’Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya.’’
 2. Penundaan amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan kesempatan itu atau kemungkinan ia akan dijemput oleh maut yang setiap saat selalu menantinya.
 3. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah. Seorang penyair berkata: ‘’Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Waktu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga.

JANGAN MINTA DIPINDAH DARI SATU MAQOM KE MAQOM LAIN
لاتَطلُبْ منهُ ان يُخرِجكَ من حالةٍ ليَسْتعملكَ فيماَ سِواها فلوارَادكَ لاسْتَعْملك من غير اِخرَاجٍ
"Jangan engkau meminta kepada Alloh supaya dipindahkan dari suatu masalah kepada masalah yang lain, sebab sekiranya Alloh menghendakinya tentu telah memindahkanmu, tanpa merubah keadaan yang terdahulu."
Dalam suatu hikayat: Ada seorang yang salik, dia bekerja mencari nafkah dan beribadat dengan tekun, lalu ia berkata dalam hatinya: Andaikata aku bisa mendapatkan untuk tiap hari, dua potong roti, niscaya aku tidak susah bekerja dan melulu beribadat. Tiba-tiba ia tanpa ada masalah tiba-tiba ia ditangkap dan dipenjara, dan tiap hari ia menerima dua potong roti, kemudian setelah beberapa lama ia merasa menderita dalam penjara, ia berpikir: Bagaimana sampai terjadi demikian ini? Tiba-tiba ia mendengar suara yang berkata: Engkau minta dua potong roti, dan tidak minta keselamatan, maka Kami [Alloh] menerima dan memberi apa yang engkau minta. Setelah itu ia memohon ampun dan membaca istighfar, maka seketika itu pula pintu penjara terbuka dan ia dibebaskan dari penjara.

SALIK, JANGAN BERHENTI KARENA GODAAN
مااَرادتْ هِمّـَة ُ سالكٍ ان تقِفَ عِندَما كُشِفَ لهاَ الاَّونادَتـْهُ هَوَاتِفُ الحقيقَةِ الَّذى تطْلُبُهُ امامكَ وَلاَ تبَرَّجَتْ ظَواهِرُالمكوّناتِ الاَّ ونادتكَ حقاَءـقهاَ انَّما نحنُ فِتنةٌ فلا تـكفـُرْ

“Tiada kehendak dan semangat orang salik [yang mengembara menuju kepada Alloh] untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang ghoib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah mengembara berjalan menuju ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya: Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir."
Arti salik yaitu: menempuh jalan. Yang di maksud salik disini usaha caranya bisa wushul kepada Alloh.
Yang di maksud wushul disini yaitu : sampai pada tingkatan merasa selalu berada disisi Alloh, di dekat Alloh, dalam segala kesempatan dan waktu.
Abu Hasan at-Tustary berkata: "Di dalam pengembaraan menuju kepada Allah jangan menoleh kepada yang lain, dan selalu ber-dzikir kepada Allah, sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala sesuatu selain Allah, akan menghambat pengembaraanmu."















NILAI
 
Tgl penyerahan            : 19 Agustus 2017
Nama                           : Abdul Halim
Utusan                         : MUI Kec. Parung
Jenis Tugas                  : Refleksi
Tgl Pertemuan             : 12 Agustus 2017      
 


Kesulitan atau kemudahan merupakan realita hidup yang pasti akan kita hadapi. Hal ini sudah merupakan ketetapan takdir yang telah tercatat dI Lauhul Mahfuzh. Sebagai manusia, kita berkewajiban melakukan yang terbaik, yaitu mencari jalan-jalan kemudahan dan menghindari pintu-pintu kesulitan. Untuk itu kita perlu memahami factor-faktor yang menimbulkan kesulitan hidup. Hal ini sangat penting agar kita bias menyikapi kesulitan-kesulitan itu sesuai situasi dan kondisianya.
Berikut ini beberapa faktor kesulitan hidup, antara lain:
1.     Kesulitan sebagai ujian keimanan
أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون (2) ولقد فتنا الذين من قبلهم ۖ فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan, ‘kami telah berfirman,’padahal meraka belum diuji? Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang berdusta.” (Al-Ankabut : 2-3)

Pengakuan lisan ternyata tidak cukup untuk membuktikan kualitas keimanan seseorang. Misalnya ada yang berkata, “kami ini orang shalih. Kami orang baik. Kami tidak akan berbuat buruk. Percayalah kepada kami!” perkataan seperti itu tidak bisa begitu saja dipercaya, tetapi butuh bukti kongkrit untuk membenarkan ucapan tersebut. Betapa banyak lisan yang berkata dalam keshalihan, tetapiperbuatan pemiliknya menampakkan kejahatan. Begitu juga dengan keimanan. Betapa orang banyak berkata, “kami beriman dan bertaqwa kepada Allah,” tetapi prilaku mereka tidak membuktikan ucapannya. Oleh karena itu diperlukan ujian untuk membuktikan keteguhan iman seseorang.



1.       2. Kesulitan sebagai resiko perjuangan
أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يأتكم مثل الذين خلوا من قبلكم ۖ مستهم الْبأساء والضراء وزلزلوا حتى يقول الرسول والّذين آمنوا معه متى نصر الله ۗ ألا إن نصر الله قريب
“Apakah kalian mengira akan begitu saja masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan-cobaan seperti (yang menimpa) orang-orang sebelum kalian? Mereka tertimpa kesengsaraan, kesempitan dan diguncang (oleh cobaan-cobaan), hingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman yang bersamanya, ‘kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ketahuilah, sesungguhnya (setelah semua cobaan) pertolongan Allah sudah dekat.” (Al-baqarah : 214)
Perjuangan  pasti menuntut kesabaran, sebab tidak ada perjuangan yang mudah. Orang-orang beriman sangat menyadari resiko perjuangan. Bahkan orang-orang kafir pun menyadari kenyataan itu. Mereka berjuang keras untuk meraih kemenangan di bidang pangan, pendidikan, kesehatan, teknologi, informasi, kebudayaan, politik, sampai militer. Tidak terhitung jumlah manusia patriotik yang telah berkorban demi kenyamanan hidup anak-cucu mereka.
1.      3. Kesulitan terjadi karena kemalasan
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Dan siapa yang lambat amal perbuatannya, maka dia tidak akan dipercepat oleh (keunggulan) nasabnya (garis keturunan). (HR. Al-Bukhari-Muslim)
Di antara sebab kesulitan ialah kemalasan. Kemalasan bersumber dari lemahnya jiwa dan dorongan hawa nafsu. Seseorang merasa berat untuk melakukan sesuatu yang baik, sedang dirinya lebih menyukai kesenangan-kesenangan. Ketika waktunya belajar, dia pergunakan untuk bermain; ketika saatnya menabung, dia habiskan uang untuk jajan; ketika saatnya membangun karir, dia lebih suka keluyuran tak tentu arah; ketika saatnya khusyuk dalam ibadah, dia justru tenggelam dalam perbuatan sia-sia. Sempatan dan kekuatan yang semestinya dipakai untuk meraih kebaikan, justru dihambur-hamburkan tak jelas tujuannya. Jika seseorang melalui proses seperti ini di kemudian hari hidupnya menderita, maka hal itu merupakan akibat yang dia buat sendiri. Tidak ada yang lebih patut disesali, selain masa muda yang disia-siakan, kesempatan yang dibuang-buang serta rezki yang dihambur-hamburkan. Kepada Allah kita memohon perlindungan dari sifat malas dan berbagai keburukan yang bersumber darinya. Amin.
Tidak mengherankan jika dalam salah satu doanya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memohon, “Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan rasa malas.” (HR. Albukhari)

4. Kesulitan terjadi karena kemaksiatan
ومن يكسب إثما فإنما يكسبه على نفسه ۚ وكان الله عليما حكيما
“Dan siapa yang mengerjakan satu dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakan satu dosa itu untuk (kerugian) dirinya sendiri.” (An-Nisaa : 111)
Banyak orang merasa bebas berbuat dosa, sebab dosa-dosa itu akibatnya tidak terlihat secara langsung. Jika dosa serupa penyakit yang langsung terasa di tubuh, mungkin banyak orang akan berpikir ulang sebelum berbuat dosa. Dampak yang tidak tampak ini membuat banyak orang merasa ringan melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah. Padahal, setiap dosa berdampak buruk terhadap pelakunya di dunia dan akhirat. Jika kadar dosa seseorang masih ringan, ia masih dihapuskan dengan istigfar. Tetapi jika kadar dosa itu sudah mematikan hati, maka balasan bagi pelakunya ialah bencana yang sangat berat.
 Jika perpuatan dosa dilakukan oleh satu orang, hal itu membuatnya gelisah. Lalu bagaimana jika dosa-dosa tersebut dilakukan oleh puluhan, ratusan, ribuan, hingga jutaan manusia? Jika demikian keadaanya, maka kehidupan suatu kaum (bangsa) akan diliputi dengan kesusahan- kesusahan. Apa yang selama ini menimpa bangsa Indonesia berupa bencana alam dan bencana kemanusiaan, semua itu merupakan peringatan besar dari Allah, jika kita mau merenunginya.
ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون
“dan sekiranya penduduk negri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi,Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka karena perbuatannya.” (Al-A’raf : 96)
Demikianlah beberapa faktor penyebab kesulitan hidup. Kesulitan yang kita alami rata-rata tidak keluar dari empat kemungkinan di atas. Ada kalanya kesulitan timbul sebagai ujian keimanan, sebagai resiko perjuangan, sebagai dampak kemalasan, atau sebagai akibat perbuatan dosa.
Selanjutnya, kita tinggal merenungi apa yang selama ini terjadi di sekitar kita. Lihatlah situasi sekililing, lalu pikirkan sejernih mungkin, kira-kira faktor apa yang menyebabkan kesulitan-kesulitan itu muncul? Apakah ia ujian iman, resiko perjuangan, kemalasan, atau kerena maksiat? Kita perlu memahami faktor tersebut secara tepat, lalu menyesuaikan diri dengannya. Jangan sampai terjadi, kesulitan karena cobaan iman kita anggap sebagi adzab dari Allah, sebaliknya, kesulitan karena perbuatan dosa, kita anggap sebagai resiko perjuangan.
Apa pun faktor penyebabnya, melakukan perbaikan diri secara sungguh-sungguh, tidak pernah merugikan atau menimbulkan penyesalan.

يا بني آدم إما يأتينكم رسل منكم يقصون عليكم آياتي فمن اتقى وأصلح فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون
“Maka barang siapa yang takut (kepada Allah) dan melakukan perbaikan, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Al-A’raat : 35)


Wallohu a’lamu bissowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar