Tgl penyerahan : 19 Agustus 2017
Nama : Abdul Halim
|
Utusan :
MUI Kec. Parung
Mata Kuliah :
Stadium General
Media Masa dan Kebebasan Informasi
Dosen : Hazairin Sitepu ( CEO Radar Bogor )
Jenis Tugas : Resume
Tgl Materi : 12 Agustus 2017
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat,
terutama dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi yang menjadikan segala
berita dan kebebasan berpendapat pun dapat di diakses dengan begitu mudahnya.
Bahkan bukan hanya itu, kemajuan teknologi pun membantu masyarakat untuk
berbagi informasi dan menyebarkan berita dengan cepat dan begitu mudahnya, baik
yang bersifat positif dan bermanfaat bagi masyarakat maupun bersifat
negatif yang mengandung unsur-unsur
kebohongan, propokasi atau berita-berita hoax yang dewasa ini banyak beredar di
kalangan masyarakat.
Begitu banyak berita-berita yang tidak jelas
kebenarannya yang disebar luaskan oleh sebahagian masyarakat atau golongan yang
tidak bertanggung jawab. Berita Hoax yang disebarluaskan memang
ditujukan agar orang lain dapat dengan mudah mempercayai berita bohong atau
hoax tersebut, dan tak jarang orang lain justru turut serta untuk
menyebarkannya.
Sebagai
masyarakat yang baik, seharusnya bisa menyaring dan memilih mana berita yang
benar dan mana berita hoax, sehingga tidak terpengaruh dengan berita-berita
yang tidak jelas sumbernya dan tidak dapat di pertanggung jawabkan tersebut.
Sebagai ulama yang menjadi figur dan pelayan di
masyarakat, memiliki peran dan tugas yang sangat penting untuk menghadapi
situasi seperti ini. Diantaranya adalah:
Ø Sebagai ulama harus bisa mengajarkan
tabayun kabar berita apalagi tentang hoax.
Ø Harts cerdas memilih informasi dan menagggapi
berita hoax.
Ø Harus bias mengklarifikasi tentang berita yang hoax sebagaimana diterangkan dalam Qs. Al-Hujurat ayat 6 :
يَاأيها الذين
امنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على
ما فعلتم نادمين
“ Wahai orang-orang yang beriman! Jika
seseorang yang fasik dating kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah
kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (
kecerobohan ), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”
Tgl penyerahan : 19 Agustus 2017
|
Nama :
Abdul Halim
Utusan : MUI Kec. Parung
Mata
Kuliah : Ilmu Hadist
Dosen : KH. Sanusi Azhari
Jenis
Tugas : Resume
Tgl
Materi : 12 Agustus 2017
Seorang ulama dalam menyampaikan hadits itu tidak
lah cukup dengan mengatakan Al-hadits saja tanpa menyebutkan sanad atau siapa
yang meriwayatkan hadits tersebut. Sehingga dengan itu bisa diketahui derajat
atau kedudukan hadits yang ia sampaikan. Apakah itu hadits sohih, hasan, atau
do’if ( lemah ).
Beerikut ini keduduka atau derajat suatu hadits,
diantaranya :
Ø Shahih : Hadits
yang dinukilkan oleh orang yang adil (muslim, baligh, berakal, bebas dari
kefasiqan yaitu melakukan dosa besar atau selalu melakukan dosa kecil, dan
bebas dari sesuatu yang menjatuhkan muru’ah/ kewibawaan) dan sempurna
hafalannya/penjagaan kitabnya terhadap hadist itu, dari orang yang semacam itu
juga dengan sanad yang bersambung, tidak memiliki ‘illah (penyakit/ kelemahan)
dan tidak menyelisihi yang lebih kuat. Hadits shahih hukumnya diterima dan
berfungsi sebagai hujjah.
Ø Hasan
(baik) : Hadits yang sama dengan hadits yang shahih namun
derajatnya turun dan tidak sehebat perawi hadits sohih. Seperti kurang pada
sifat rawinya di mana hafalannya/
penjagaan kitabnya terhadap hadits tidak sempurna, yakni lebih rendah. Hadits
hasan hukumnya diterima
didalam syariat.
Ø Do’if
( lemah ) : Hadits yang kedudukannya turun
derastis dari derajat hadits hasan, dikarenakan ada beberapa paktor yang
menjadikan kedudukan hadits menjadi lemah, baik dalam sifat atau diri perawinya
ataupun dalam matan/ lafadz hadisnya.
Ø Maudhu’ (palsu)
:
Hadits yang didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam padahal
beliau tidak pernah mengatakannya, hukumnya ditolak.
Ø Mursal
:
Yaitu seorang tabi’in menyandarkan suatu ucapan atau perbuatan kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam. Hukumnya tertolak karena ada rawi yang hilang
antara tabi’in tersebut dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mungkin yang
hilang itu adalah rawi yang lemah.
Ø Munqathi’
:
Hadits yang terputus sanadnya secara umum, artinya hilang salah satu rawinya
atau lebih dalam sanad, bukan di awalnya dan bukan di akhirnya dan tidak pula
hilangnya secara berurutan. Hukumnya tertolak.
Ø Perawi Matruk
:
Perawi yang dituduh berdusta, atau perawi yang banyak melakukan kekeliruan,
sehingga periwayatanya bertentangan dengan periwayatan perawi yang tsiqah. Atau
perawi yang sering meriwayatkan hadits-hadits yang tidak dikenal (gharib) dari
perawi yang terkenal tsiqah.
Ø Rawi Mudhtharib
:
Rawi yang menyampaikan riwayat secara tidak akurat, di mana riwayat yang
disam-paikannya kepada rawi-rawi di bawahnya berbeda antara yang satu dengan
lainnya, yang menyebabkan tidak dapat ditarjih; riwayat siapa yang mahfuzh
(terjaga).
Ø Rawi Mukhtalith
:
Rawi yang akalnya terganggu, yang menye-babkan hafalannya menjadi campur aduk
dan ucapannya menjadi tidak teratur.
Ø Tahqiq
:
Penelitian ilmiah secara seksama tentang suatu hadits, sehingga mencapai
kebenaran yang paling tepat.
Ø Mutaba’ah : Hadits
yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits
gharib, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari seorang sahabat yang
sama.
Tgl penyerahan resume : 19 Agustus 2017
|
Nama :
Abdul Halim
Utusan : MUI Kec.
Parung
Mata
Kuliah : Ilmu
Tasawuf
Kajian Kitab Al- Hikam
Dosen : KH.
Husnuddin
Jenis
Tugas :
Resume
TANDA-TANDA KEBODOHAN
ماتركَ من
الجهلِ شيْـءـاًمن ارادَ ان يُحدِثَ فى الوَقتِ غيرَمااظهرهُ اللهُ فيه
“Tiada meninggalkan sedikitpun dari kebodohan,
barangsiapa yang berusaha akan mengadakan sesuatu dalam suatu masa, selain dari
apa yang dijadikan oleh Alloh di dalam masa itu."
Sungguh amat bodoh seorang yang mengadakan sesuatu
yang tidak dikehendaki oleh Alloh. Pada Hikmah lain ada keterangan: Tiada suatu
saat pun yang berjalan melainkan di situ pasti ada takdir Alloh yang
dilaksanakan.
Alloh
berfirman: "Tiap hari Dia [Alloh]
menentukan urusan." Menciptakan, menghidupkan, mematikan, memuliakan,
menghinakan dan lain-lain. Maka sebaiknya seorang hamba menyerah dengan ikhlas
kepada hukum ketentuan Alloh pada tiap saat, sebab ia harus percaya kepada
rahmat dan kebijaksanaan kekuasaan Alloh.
JANGAN MENUNDA AMAL
اِحالتكَ الاَعمالِ
علىٰ وجودِ الفراغِ من رعوناتِ النـَّفـْسِ
“Menunda amal
perbuatan [kebaikan] karena menanti kesempatan lebih baik, suatu tanda
kebodohan yang mempengaruhi jiwa.”
Seorang
murid apabila terlalu disibukkan dengan urusan dunianya, yang bisa menghalangi
amal yang menyebabkan dekat dengan Alloh, sehingga dia menangguhkan amal
menunggu kesempatan yang tidak sibuk itu dinamakan kumprung/kebodohan.
Kebodohan
itu disebabkan oleh: 1. Karena ia mengutamakan duniawi. Padahal Alloh subhanahu
wata’ala berfirman: ‘’Tetapi kamu
mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal
selamanya.’’
2. Penundaan
amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan
mendapatkan kesempatan itu atau kemungkinan ia akan dijemput oleh maut yang
setiap saat selalu menantinya.
3.
Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah. Seorang
penyair berkata: ‘’Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau
kerjakan hari ini. Waktu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali
untuk sesuatu yang berharga.
JANGAN
MINTA DIPINDAH DARI SATU MAQOM KE MAQOM LAIN
لاتَطلُبْ منهُ ان يُخرِجكَ من حالةٍ
ليَسْتعملكَ فيماَ سِواها فلوارَادكَ لاسْتَعْملك من غير اِخرَاجٍ
"Jangan engkau meminta kepada Alloh supaya
dipindahkan dari suatu masalah kepada masalah yang lain, sebab sekiranya Alloh
menghendakinya tentu telah memindahkanmu, tanpa merubah keadaan yang
terdahulu."
Dalam suatu hikayat: Ada seorang yang salik, dia
bekerja mencari nafkah dan beribadat dengan tekun, lalu ia berkata dalam
hatinya: Andaikata aku bisa mendapatkan untuk tiap hari, dua potong roti,
niscaya aku tidak susah bekerja dan melulu beribadat. Tiba-tiba ia tanpa ada
masalah tiba-tiba ia ditangkap dan dipenjara, dan tiap hari ia menerima dua
potong roti, kemudian setelah beberapa lama ia merasa menderita dalam penjara,
ia berpikir: Bagaimana sampai terjadi demikian ini? Tiba-tiba ia mendengar
suara yang berkata: Engkau minta dua potong roti, dan tidak minta keselamatan,
maka Kami [Alloh] menerima dan memberi apa yang engkau minta. Setelah itu ia
memohon ampun dan membaca istighfar, maka seketika itu pula pintu penjara
terbuka dan ia dibebaskan dari penjara.
SALIK, JANGAN BERHENTI KARENA GODAAN
مااَرادتْ
هِمّـَة ُ سالكٍ ان تقِفَ عِندَما كُشِفَ لهاَ الاَّونادَتـْهُ هَوَاتِفُ
الحقيقَةِ الَّذى تطْلُبُهُ امامكَ وَلاَ تبَرَّجَتْ ظَواهِرُالمكوّناتِ الاَّ
ونادتكَ حقاَءـقهاَ انَّما نحنُ فِتنةٌ فلا تـكفـُرْ
“Tiada kehendak dan
semangat orang salik [yang mengembara menuju kepada Alloh] untuk berhenti
ketika terbuka baginya sebagian yang ghoib, melainkan segera diperingatkan oleh
suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah mengembara berjalan menuju ke
depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan
diperingatkan oleh hakikatnya: Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka
janganlah tertipu hingga menjadi kafir."
Arti salik yaitu: menempuh
jalan. Yang di maksud salik disini usaha caranya
bisa wushul kepada Alloh.
Yang di maksud wushul disini yaitu : sampai pada tingkatan merasa selalu
berada disisi Alloh, di dekat Alloh, dalam segala kesempatan dan waktu.
Abu Hasan at-Tustary berkata: "Di dalam
pengembaraan menuju kepada Allah jangan menoleh kepada yang lain, dan selalu
ber-dzikir kepada Allah, sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala sesuatu
selain Allah, akan menghambat pengembaraanmu."

|
Tgl
penyerahan : 19 Agustus 2017
Nama : Abdul Halim
Utusan : MUI Kec. Parung
Jenis Tugas : Refleksi
Tgl Pertemuan : 12 Agustus 2017
Kesulitan atau
kemudahan merupakan realita hidup yang pasti akan kita hadapi. Hal ini sudah
merupakan ketetapan takdir yang telah tercatat dI Lauhul Mahfuzh. Sebagai
manusia, kita berkewajiban melakukan yang terbaik, yaitu mencari jalan-jalan
kemudahan dan menghindari pintu-pintu kesulitan. Untuk itu kita perlu memahami
factor-faktor yang menimbulkan kesulitan hidup. Hal ini sangat penting agar
kita bias menyikapi kesulitan-kesulitan itu sesuai situasi dan kondisianya.
Berikut ini beberapa faktor kesulitan hidup, antara lain:
1. Kesulitan sebagai ujian keimanan
أحسب الناس أن يتركوا أن
يقولوا آمنا وهم لا يفتنون (2) ولقد فتنا الذين من قبلهم ۖ فليعلمن الله الذين
صدقوا وليعلمن الكاذبين
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan,
‘kami telah berfirman,’padahal meraka belum diuji? Dan sungguh kami telah
menguji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui orang-orang yang
benar dan mengetahui orang-orang yang berdusta.” (Al-Ankabut : 2-3)
Pengakuan lisan ternyata tidak cukup
untuk membuktikan kualitas keimanan seseorang. Misalnya ada yang berkata, “kami
ini orang shalih. Kami orang baik. Kami tidak akan berbuat buruk. Percayalah
kepada kami!” perkataan seperti itu tidak bisa begitu saja dipercaya, tetapi
butuh bukti kongkrit untuk membenarkan ucapan tersebut. Betapa banyak lisan
yang berkata dalam keshalihan, tetapiperbuatan pemiliknya menampakkan
kejahatan. Begitu juga dengan keimanan. Betapa orang banyak berkata, “kami
beriman dan bertaqwa kepada Allah,” tetapi prilaku mereka tidak membuktikan
ucapannya. Oleh karena itu diperlukan ujian untuk membuktikan keteguhan iman
seseorang.
1. 2. Kesulitan sebagai resiko perjuangan
أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما
يأتكم مثل الذين خلوا من قبلكم ۖ مستهم الْبأساء والضراء وزلزلوا حتى يقول الرسول
والّذين آمنوا معه متى نصر الله ۗ ألا إن نصر الله قريب
“Apakah kalian mengira akan begitu saja
masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan-cobaan seperti (yang
menimpa) orang-orang sebelum kalian? Mereka tertimpa kesengsaraan, kesempitan
dan diguncang (oleh cobaan-cobaan), hingga berkatalah Rasul dan orang-orang
yang beriman yang bersamanya, ‘kapankah datangnya pertolongan Allah?’
Ketahuilah, sesungguhnya (setelah semua cobaan) pertolongan Allah sudah dekat.” (Al-baqarah : 214)
Perjuangan pasti menuntut
kesabaran, sebab tidak ada perjuangan yang mudah. Orang-orang beriman sangat
menyadari resiko perjuangan. Bahkan orang-orang kafir pun menyadari kenyataan
itu. Mereka berjuang keras untuk meraih kemenangan di bidang pangan,
pendidikan, kesehatan, teknologi, informasi, kebudayaan, politik, sampai
militer. Tidak terhitung jumlah manusia patriotik yang telah berkorban demi
kenyamanan hidup anak-cucu mereka.
1.
3. Kesulitan terjadi karena
kemalasan
Rasulullah Shallallahu
Alahi wa Sallam bersabda, “Dan siapa yang lambat amal perbuatannya, maka dia
tidak akan dipercepat oleh (keunggulan) nasabnya (garis keturunan). (HR. Al-Bukhari-Muslim)
Di antara sebab kesulitan ialah
kemalasan. Kemalasan bersumber dari lemahnya jiwa dan dorongan hawa nafsu.
Seseorang merasa berat untuk melakukan sesuatu yang baik, sedang dirinya lebih
menyukai kesenangan-kesenangan. Ketika waktunya belajar, dia pergunakan untuk
bermain; ketika saatnya menabung, dia habiskan uang untuk jajan; ketika saatnya
membangun karir, dia lebih suka keluyuran tak tentu arah; ketika saatnya
khusyuk dalam ibadah, dia justru tenggelam dalam perbuatan sia-sia. Sempatan
dan kekuatan yang semestinya dipakai untuk meraih kebaikan, justru
dihambur-hamburkan tak jelas tujuannya. Jika seseorang melalui proses seperti
ini di kemudian hari hidupnya menderita, maka hal itu merupakan akibat yang dia
buat sendiri. Tidak ada yang lebih patut disesali, selain masa muda yang
disia-siakan, kesempatan yang dibuang-buang serta rezki yang
dihambur-hamburkan. Kepada Allah kita memohon perlindungan dari sifat malas dan
berbagai keburukan yang bersumber darinya. Amin.
Tidak mengherankan
jika dalam salah satu doanya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
memohon, “Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan rasa
malas.” (HR. Albukhari)
4. Kesulitan terjadi karena
kemaksiatan
ومن يكسب إثما فإنما يكسبه على نفسه ۚ وكان الله
عليما حكيما
“Dan siapa yang
mengerjakan satu dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakan satu dosa itu untuk
(kerugian) dirinya sendiri.” (An-Nisaa : 111)
Banyak orang merasa bebas berbuat dosa,
sebab dosa-dosa itu akibatnya tidak terlihat secara langsung. Jika dosa serupa
penyakit yang langsung terasa di tubuh, mungkin banyak orang akan berpikir
ulang sebelum berbuat dosa. Dampak yang tidak tampak ini membuat banyak orang
merasa ringan melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah. Padahal,
setiap dosa berdampak buruk terhadap pelakunya di dunia dan akhirat. Jika kadar
dosa seseorang masih ringan, ia masih dihapuskan dengan istigfar. Tetapi jika
kadar dosa itu sudah mematikan hati, maka balasan bagi pelakunya ialah bencana
yang sangat berat.
Jika perpuatan dosa
dilakukan oleh satu orang, hal itu membuatnya gelisah. Lalu bagaimana jika
dosa-dosa tersebut dilakukan oleh puluhan, ratusan, ribuan, hingga jutaan
manusia? Jika demikian keadaanya, maka kehidupan suatu kaum (bangsa) akan
diliputi dengan kesusahan- kesusahan. Apa yang selama ini menimpa bangsa
Indonesia berupa bencana alam dan bencana kemanusiaan, semua itu merupakan
peringatan besar dari Allah, jika kita mau merenunginya.
ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم
بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون
“dan sekiranya penduduk negri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan
melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi,Akan tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka karena perbuatannya.” (Al-A’raf : 96)
Demikianlah beberapa
faktor penyebab kesulitan hidup. Kesulitan yang kita alami rata-rata tidak
keluar dari empat kemungkinan di atas. Ada kalanya kesulitan timbul sebagai
ujian keimanan, sebagai resiko perjuangan, sebagai dampak kemalasan, atau
sebagai akibat perbuatan dosa.
Selanjutnya, kita tinggal merenungi apa yang selama ini terjadi di sekitar
kita. Lihatlah situasi sekililing, lalu pikirkan sejernih mungkin, kira-kira
faktor apa yang menyebabkan kesulitan-kesulitan itu muncul? Apakah ia ujian
iman, resiko perjuangan, kemalasan, atau kerena maksiat? Kita perlu memahami
faktor tersebut secara tepat, lalu menyesuaikan diri dengannya. Jangan sampai
terjadi, kesulitan karena cobaan iman kita anggap sebagi adzab dari Allah,
sebaliknya, kesulitan karena perbuatan dosa, kita anggap sebagai resiko
perjuangan.
Apa pun faktor penyebabnya, melakukan
perbaikan diri secara sungguh-sungguh, tidak pernah merugikan atau menimbulkan
penyesalan.
يا بني آدم إما يأتينكم
رسل منكم يقصون عليكم آياتي فمن اتقى وأصلح فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون
“Maka barang siapa
yang takut (kepada Allah) dan melakukan perbaikan, tidak ada ketakutan atas
mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Al-A’raat : 35)
Wallohu a’lamu bissowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar